Sistem Politik dan Pemerintahan Myanmar
POLITIK DAN PEMERINTAHAN ASIA TENGGARA
(NEGARA MYANMAR)

OLEH
KELOMPOK V
LA ODE MUHAMMAD
DAFA ULHAQ C1A415
RIDAYANI C1A415062
CITRA NINGSI C1A415060
ASRUN JOHAR C1A415
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
KONSENTRASI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2017
Myanmar adalah sebuah negara yang terletak di Asia Tenggara. Negara
yang secara astronomis berada di antara 11°LU – 28°LU dan 92°BT – 100°BT
ini berbatasan dengan Bangladesh, India dan laut Benggala disebelah baratnya,
sedangkan disebelah timurnya Myanmar berbatasan dengan Thailand, Laos dan
China. Di sebelah Utara Myanmar adalah China dan disebelah Selatan adalah Laut
Andaman.
Myanmar yang sebelumnya dikenal dengan nama negara Burma ini pernah
diperintah oleh pemerintahan militer sejak tahun 1962 hingga tahun 2016
diadakannya pemilihan umum yang dimenangkan oleh Presiden yang bukan dari
kalangan militer. Presiden terpilih ini berasal dari Liga Nasional untuk
Demokrasi yang menang dalam pemilihan umum tahun 2015. Liga Nasional untuk
Demokrasi (National League for Democracy) atau NLD merupakan partai yang
dipimpin oleh Aung San Suu Kyi. Dalam pemerintahan baru ini, Aung San Suu Kyi
menjabat sebagai kanselir negara yang setara dengan jabatan Perdana Menteri
pada tanggal 6 April 2016. Aung San Suu Kyi juga pernah meraih penghargaan
nobel di bidang perdamaian pada tahun 1991 karena perjuangannya dalam memajukan
demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan
rezim militer.
Luas wilayah Myanmar adalah sebesar 676.578 km2 dengan jumlah
penduduk sebanyak 55.123.814 jiwa. Mayoritas penduduk Myanmar adalah
etnis Burma atau Bamar yaitu sebanyak 68%. Pemerintah Myanmar mengakui sebanyak
135 kelompok etnis asli di Myanmar. Kebanyakan penduduk Myanmar menganut agama
Buddha yaitu sebanyak 87,9% sedangkan agama lainnya adalah agama Kristen
sebanyak 6,2%, agama Islam sebanyak 4,3% serta agama-agama lainnya. Bahasa
resmi Myanmar adalah bahasa Myanmar.
Jumlah penduduk Negara Myanmar pada
tahun 2003 sekitar 49,5 juta juwa dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,4% per
tahun. Penduduk Myanmar terdiri dari beberapa kelompok etnis. Kelompok terbesar
adalah orang Burma turunan Tibet-Burma (69%). Suku lainnya adalah Shan (8,5%),
Karena (6,2%), Rakhin (4,5%), Mon (2,4%), China (2,2%) dan Kachin (1,4%).
Sebagian besar penduduk Myanmar beragama Budha (89,4%). Bahasa resmi yang
digunakan adalah bahasa Burma
Nama Burma digantikan menjadi Myanmar oleh pemerintah militer pada
tanggal 18 Juni 1989 dengan tujuan agar etnis non-Burma juga merasa bagian dari
negara ini. Myanmar merupakan sebuah negara multi-etnis yaitu terdiri dari
etnis Burma, Karen, Kayah, Arakan, Mon, Kachin, Chin, Rohingya dan seratus
lebih etnis minoritas lainnya. Pada tanggal 7 November 2005, Pemerintah militer
juga memindahkan Ibukotanya dari Rangoon (Yangon) ke Naypyitaw. Selain nama
negara dan Ibukota, pemerintahan militer Myanmar juga menggantikan bendera dan
lagu kebangsaannya pada tanggal 21 Oktober 2010
Sistem pemerintahaan Myanmar adalah Republik Presidensil. Di
Republik Presidensil Myanmar ini, kepala negara dan kepala pemerintahannya
adalah seorang Presiden yang dibantu oleh dua orang wakil Presiden. Namun
pada April 2016, Presiden membentuk jabatan baru yaitu Kanselir Negara (state
counsellor) yang setara dengan jabatan Perdana Menteri. Saat ini, Kanselir
Negara dijabat oleh Aung San Suu Kyi.
Keadaan Ekonomi Myanmar, Meskipun kaya sumber daya alam, ekonomi Myanmar sebagian besar telah mengalami stagnasi sejak tahun 1997 karena manajemen makroekonomi yang buruk, utang sektor publik yang besar, penurunan tajam dalam investasi asing, kebijakan isolasionis dan sanksi perdagangan. Pendapatan rendah, tinggi pengeluaran pertahanan (dianggap sebanyak 40%) dan kerugian berat oleh perusahaan negara telah menyebabkan defisit anggaran besar. Ukuran ekonomi hitam di Myanmar membatasi kemampuan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan pajak, dan penghindaran pajak meluas. Kurs manajemen yang miskin, dengan nilai tukar resmi kyat terlalu overvalue.
Di bidang perekonomian, Myanmar adalah negara
berkembang yang memiliki pendapatan domestik bruto sebesar US$307,3 miliar
dengan pendapatan perkapitanya sebesar US$6.000,- (2016). Tulang punggung
perekonomian Myanmar adalah sektor pertanian seperti beras, kacang, tebu,
produk perkayuan dan produk-produk perikanan. Selain sektor pertanian, industri
lain yang penting bagi perekonomian Myanmar adalah garment, semen, bahan
konstruksi, farmasi, pupuk serta sektor pertambangan seperti tembaga, besi,
timah, minyak bumi, gas alam dan batu-batu mulia (permata dan giok).
Kebijakan Luar
Negeri Indonesia Terhadap Myanmar
Tak
banyak yang tahu, junta militer Myanmar yang tadinya mengisolasi diri dari
dunia internasional, akhirnya mau melakukan proses-proses demokratisasi adalah
berkat KITA, pemerintah Indonesia. Masa 10 tahun SBY, Kementerian Luar Negeri
kita sangat aktif mendorong Myanmar untuk lebih terbuka, dan berhasil.
Pemerintah Indonesia banyak dipuji atas prestasinya ini. Sayangnya, setelah
Myanmar menjadi terbuka dan investasi asing terus meningkat, Indonesia justru
hampir tidak kebagian apa-apa. Menurut Myanmar Investment Commission, Indonesia
ada di ranking 21 dari 30 negara yang berinvestasi di Myanmar. Kelihatannya,
politik luar negeri yang aktif terhadap Myanmar yang dilakukan SBY tidak
diikuti oleh presiden Indonesia yang baru, Joko “Jokowi” Widodo. …Faktanya, Jokowi
telah mendelegasikan tugas diplomasi kepada Menlu-nya. Segera setelah pengungsi
masuk ke perairan Aceh, Menlu Marsudi menemui sejawatnya dari Malaysia dan
Thailand di Putrajaya, Malaysia. Pada 20 Mei 2015, Indonesia dan Malaysia
menyediakan diri untuk menampung para manusia perahu dari Myanmar dan
Bangladesh, sementara Thailand menolak menolong. Marsudi juga berhasil
mendapatkan janji bantuan dari negara Timur Tengah, termasuk Qatar, yang
menjanjikan 50 juta USD (untuk mengurusi para pengungsi ini). Beberapa waktu
yang lalu, Menlu Retno mengundang wakil dari beberapa ormas, jurnalis, dan
akademisi untuk acara makan pagi bersama. Saya juga hadir. Saat itu beliau
menjelaskan berbagai kebijakan luar negeri Indonesia. Antara lain yang penting
saya sampaikan di sini: pemerintah Indonesia dalam dealing dengan Myanmar
memang sangat menghindari megaphone diplomacy (diplomasi yang ‘berisik’).
Jadi, upaya-upaya yang dilakukan Indonesia lebih banyak ‘diam-diam’
dengan tujuan agar pemerintah Myanmar tetap mau membuka komunikasi dengan kita.
Di antara tujuan diplomasi yang ingin dicapai Indonesia adalah melunakkan hati
para elit Myanmar agar mau memberikan jamin an HAM bagi semua masyarakat di
Rakhine State, termasuk minoritas Muslim (Rohingya) serta memperluas akses bagi
masuknya bantuan kemanusiaan.
Sungguh ironis, ketika warga di Indonesia banyak yang marah-marah
pada pemerintahnya sendiri dalam kasus manusia perahu Rohingya tahun 2015,
pemerintah Myanmar malah cuci tangan dan mengatakan, “Sudah sangat jelas bahwa Myanmar
bukan sumber dari problem terkait manusia perahu di Laut Andaman.” (kata Zaw
Htay, jubir President Thein Sein). Myanmar awalnya menolak hadir dalam
pertemuan dengan Indonesia, Malaysia, Thailand. Tapi akhirnya mau, asal
negara-negara lain menggunakan istilah “illegal migrant”, bukan “Rohingya.”
Bayangkan betapa songongnya mereka. Sikap songong juga ditunjukkan pemerintah
Australia. Saat ditanya wartawan tentang nasib pengungsi Rohingya tahun 2015,
PM Australia, Tony Abbot menjawab enteng, “Nope, nope, nope.” (tidak, tidak,
tidak). Artinya, dia tidak peduli dengan para pengungsi ini.
Abbot memang ahli dalam urusan melempar tanggung jawab soal
pengungsi kepada Indonesia. Beberapa waktu lalu, dia membeli lifeboat berwarna
oranye dari Singapura. Lalu, ketika ada kapal berisi pencari suaka yang masuk
ke perairan Australia, aparat menangkap penumpangnya, lalu memaksa mereka masuk
ke lifeboat itu dan digiring masuk ke perairan Indonesia. Setelah terdampar di
Indonesia, otomatis tanggung jawabnya jatuh ke tangan Indonesia.
Padahal Indonesia tidak menandatangani Konvensi PBB tentang
pengungsi; Australia menandatanganinya. Tapi Indonesia sudah menjalankan
kewajiban kemanusiaannya dengan menampung lebih dari 11 ribu pengungsi dari 41
negara; termasuk yang ‘dibuang’ oleh Australia. Padahal Indonesia bukan tujuan
para pengungsi. Orang Rohingya pun saat diwawancarai juga pinginnya mengungsi
ke negeri makmur, bukan ke Indonesia.
Tahun 2012, JK datang langsung ke Myanmar membawa bantuan; Menlu
Marty juga ke Myanmar tahun 2014 menyampaikan komitmen bantuan 1 Juta Dollar
dan bertemu langsung dengan warga etnis Rohingya. Pada Desember 2014, Wamenlu
AM Fachir meresmikan 4 sekolah bantuan Indonesia di 3 desa di Rakhine (daerah
konflik) dengan menggunakan dana 1 juta dollar itu. Civil society pun tak kalah
sigap, misalnya MER-C yang sudah dua kali mengirim misi bantuan medis ke
Rakhine dan saat ini sedang membuat rumah sakit di sana.
Menlu Retno bahkan sudah blusukan ke berbagai kamp pengungsi
Rohingya, termasuk yang di Bangladesh. Pada 29 Desember 2016, Indonesia
mengirim 10 kontainer bantuan untuk Rohingya. Bantuan itu dilepas langsung oleh
Presiden Jokowi di pelabuhan Tanjung Priok, tentu gak pake nangis-nangisan
kayak istri Erdogan. Kesimpulannya, Indonesia sebenarnya sudah berbuat sangat
banyak dan melampaui kewajibannya (istilahnya: sudah ‘extramile’) untuk
Rohingya selama ini (mengevaluasinya tidak bisa sebatas 3 tahun terakhir saja).
Karena itu, berhentilah menyebar foto hoax untuk menghina pemerintah
kita sendiri. Seperti kasus foto kapal perang bertuliskan “Amanat Presiden
Turki Erdogan kepada Pemerintah Indonesia dan Malaysia: Jangan halang armada
kapal perang kami memasuki perairan Indonesia dan Malaysia!” Padahal itu foto
kapal milik Indonesia (KRI Sultan Iskandar Muda 367). Memalukan.
Mari bantu orang Rohingya dengan ‘pride’ (kebanggaan) sebagai
bangsa. Kita ini bahkan jauh lebih beradab dari Australia yang makmur itu. Juga
ingatlah, masih ada 90.000 pengungsi domestik (mereka yang terusir dari kampung
halaman karena berbagai konflik SARA) yang jauh lebih penting dibantu agar bisa
kembali ke kampung halaman. Jangan selalu sibuk mengurus tetangga sementara
saudara sendiri diabaikan.
Terima kasih ini sangat membantu 🙏
BalasHapus